August 7th, 2009 at 5:25 am - Visited 39 times, 1 so far today
Ilustrasi/dok.hgc
Kasus kematian akibat kanker serviks di Indonesia cukup mengkhawatirkan dan diperkirakan terdapat satu perempuan yang meninggal setiap jam akibat penyakit tersebut, kata pakar Onkologi dan Ginekologi, Dr Andriyono, Sp.OG (K).
Ditemui di sela-sela peluncuran bukunya “Kanker Serviks” edisi kedua di Surabaya, Kamis, pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, mengungkapkan, tingginya angka kematian akibat kanker serviks, lebih banyak disebabkan masih minimnya pemahaman masyarakat, terutama kaum perempuan terhadap penyakit tersebut.
“Sekitar 70 persen penderita kanker serviks, datang berobat ketika penyakitnya sudah dalam stadium lanjut dan sulit disembuhkan,” kata Andriyono yang sehari-hari juga bertugas RS Cipto Mangunkusumo Jakarta itu.
Andriyono tidak memiliki data pasti mengenai kasus kanker serviks di Indonesia, namun diperkirakan sekitar 40-50 kasus (penderita) baru ditemukan di berbagai daerah setiap harinya.
Ia mencontohkan di RSCM Jakarta, terdapat sekitar 400 penderita baru selama 2008 lalu atau lebih dari satu kasus setiap hari.
“Setiap perempuan beresiko terkena kanker mematikan ini, tapi pencegahan terhadap penyakit ini bisa dilakukan sejak dini. Yang terpenting, bagaimana memberi pemahaman kepada masyarakat soal penyakit ini,” katanya menjelaskan.
Kanker serviks disebabkan infeksi atau re-infeksi oleh “Human Papilloma Virus” (HPV), yang merupakan virus umum. Terdapat lebih dari 100 jenis virus ini, namun hanya 15 virus yang menyebabkan kanker.
Pencegahan dini terhadap kanker serviks, lanjut Andriyono, dapat dilakukan dengan “screening” (pap smear) secara berkala dan pemberian vaksin kanker serviks.
Glaxo Smith Kline (GSK), salah satu perusahaan farmasi terkemuka, beberapa waktu lalu juga telah meluncurkan vaksin HPV untuk pencegahan kanker itu. “Di negara-negara maju, vaksin seperti ini telah diberikan kepada perempuan sejak usia dini. Namun, di Indonesia dan sebagian negara berkembang, vaksin kanker serviks belum menjadi keharusan. Salah satu penyebabnya, karena harganya yang mahal,” ujarnya.
Untuk satu kali vaksinisasi, diperlukan biaya sekitar Rp700 ribu-Rp1,2 juta. Vaksin ini diberikan sebanyak tiga kali dalam jangka waktu enam bulan, kepada perempuan usia 10 hingga 55 tahun.
Sementara itu, buku Kanker Serviks edisi kedua yang ditulis Andriyono dengan dukungan GSK, ditujukan khusus bagi kalangan dokter dan praktisi kesehatan, untuk lebih memahami penyakit tersebut. “Sebagian besar praktisi kesehatan dan dokter belum melihat pentingnya vaksinasi untuk semua perempuan, karena pemahaman mereka juga belum optimal,” kata Andriyono menambahkan. (*AN)



