July 10th, 2009 at 7:25 am - Visited 19 times, 1 so far today
Pipa minyak di Negeria/afp
Harga minyak merangkak naik pada Kamis waktu setempat, setelah merosot di bawah 60 dolar AS di New York untuk pertama kalinya sejak akhir Mei karena pasar mempertimbangkan jatuhnya permintaan energi di ekonomi-ekonomi utama.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah “light sweet” untuk pengiriman Agustus naik 27 sen menjadi ditutup pada 60,41 dolar AS per barel.
Di London, minyak mentah “Brent North Sea” untuk penyerahan Agustus naik 67 sen menjadi menetap pada 61,10 dolar AS per barel. “Tidak mengherankan, harga minyak berbalik naik setelah turun untuk enam sesi berturut-turut. Ini hanya menunjukkan bahwa pasar telah memasuki wilayah kelebihan jual dan tidak ada persepsi yang berubah,” kata John Kilduff dari MF Global.
Kontrak berjangka New York dalam perdagangan harian sempat turun ke posisi 59,25 dolar AS, menembus ambang batas 60 dolar AS untuk pertama kalinya sejak 26 Mei.
Kontrak telah kehilangan lebih dari 13 dolar AS dari posisi tertinggi pekan lalu. “Untuk beberapa orang, mereka melihat pada 60 dolar AS dan mereka ingin membeli pada tingkat itu,” ujar Andy Lipow dari Lipow Oil Associates.
Namun, katanya, “apa yang memberatkan di pasar adalah jumlah persediaan” di Amerika Serikat, di konsumen energi terbesar dunia”.
Dalam laporan mingguan persediaan minyak pada Rabu, Departemen Energi AS melaporkan kenaikan tajam pada persediaan bensin dan produk minyak dalam pekan lalu.
Meskipun persediaan minyak mentah jatuh lebih curam dari yang diperkirakan 2,9 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli, penurunan ini didorong oleh lonjakan penggunaan kilang minyak.
Yang kontras, stok produk minyak AS telah membengkak dalam beberapa pekan terakhir karena lemahnya permintaan di tengah resesi yang parah yang dimulai pada Desember 2007. Permintaan minyak AS selama empat pekan lalu turun 5,9 persen dari periode yang sama pada 2008. (*An/AFP)



